Harian-Tinta.com, Proyek Abadi Blok Masela yang telah mangkrak selama 28 tahun sejak 1998, akhirnya melaksanakan groundbreaking hari ini (16/7). Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan meresmikan peletakan batu pertama untuk menandai pembangunan fisik proyek hulu migas terbesar Indonesia ini. Berlokasi di Laut Arafura, Maluku, proyek ini menelan investasi US$20,94 miliar atau setara Rp378 triliun dan ditargetkan mulai berproduksi pada periode 2029-2030.
Diketahui, Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung sebelumnya pernah mengungkapkan besarnya investasi dan penyerapan tenaga kerja proyek ini. Menurutnya, pembangunan proyek hulu migas ini menelan investasi sekitar US$20,94 miliar atau setara Rp378 triliun, dengan asumsi kurs Rp18.054 per dolar AS.
"Dengan nilai investasi sebesar US$20,94 miliar, proyek ini menyerap sekitar 12.611 tenaga kerja pada fase development," ujar Yuliot dalam acara Peresmian Fase FEED Proyek LNG Abadi, di Hotel Mulia Jakarta, Kamis (28/8/2025).
Secara geografis, Blok Masela terletak di Laut Arafura, sekitar 150 kilometer di selatan Pulau Masela. Wilayah ini masuk dalam Kabupaten Kepulauan Tanimbar, sebuah pemekaran dari Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku.
Operator proyek ini adalah perusahaan minyak dan gas bumi (migas) asal Jepang, INPEX, melalui anak usahanya INPEX Masela, Ltd, dengan hak partisipasi sebesar 65 persen. Sementara itu, PT Pertamina Hulu Energi memiliki 20 persen hak partisipasi dan Petronas Masela Sdn. Bhd. sebesar 15 persen.

Berdasarkan situs resminya, INPEX menyatakan bahwa proyek ini akan mampu menyediakan pasokan energi yang stabil dalam jangka panjang di kawasan Asia setelah beroperasi. Perusahaan tersebut menjelaskan, "Dengan mencairkan gas alam dari Lapangan Gas Abadi di fasilitas LNG darat (onshore), proyek ini diharapkan dapat memproduksi sekitar 9,5 juta ton LNG per tahun, hingga 35 ribu barel kondensat per hari, dan sekitar 150 juta kaki kubik gas alam per hari."
Selain itu, proyek ini juga akan mengintegrasikan teknologi carbon capture and storage (CCS) untuk mendukung pengembangan energi yang lebih rendah emisi.
Rencana pengembangan awal Blok Masela oleh INPEX telah disetujui pemerintah Indonesia pada 2019. Namun, konsep proyek kemudian diubah secara besar-besaran, dan revisinya disetujui pemerintah pada 2023.
Sebelumnya, Shell sempat menjadi mitra dalam proyek tersebut, tetapi raksasa energi global itu kemudian melepas kepemilikannya. Hal ini menyebabkan perubahan pada struktur kepemilikan. Partisipasi Shell kemudian digantikan oleh Pertamina dan Petronas, yang resmi bergabung sebagai mitra baru pada Oktober 2023.
Pemerintah menargetkan proyek yang dioperasikan oleh Inpex Corporation bersama mitranya ini dapat mulai berproduksi pada periode 2029-2030. Target ini bertujuan untuk memperkuat ketahanan energi nasional.