Majapahit Cemerlang di...

Majapahit Cemerlang di Abad ke-14, Eropa Terpuruk Akibat Bencana dan Perang

Ukuran Teks:

Harian-Tinta.com, Jakarta – Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), AM Hendropriyono, menyoroti kecemerlangan Kerajaan Majapahit di abad ke-14. Kondisi Majapahit yang makmur dan stabil saat itu sangat kontras dengan Eropa, khususnya Prancis, yang dilanda Perang 100 Tahun dan wabah Black Death. Hendropriyono juga membahas dinamika geopolitik abad ke-19 terkait Nice dan kedaulatan Monaco.

Menurut Hendropriyono, Kabupaten Nice yang beralih menjadi milik Prancis pada 1860 melalui Perjanjian Turin adalah hasil diplomasi geopolitik abad ke-19. Perjanjian antara Kaisar Napoleon III dan Raja Victor Emmanuel II ini merupakan imbalan atas bantuan Prancis terhadap unifikasi Italia. "Dari kacamata Indonesia hal tersebut adalah hasil diplomasi geopolitik abad-19, bukan merupakan suatu pencaplokan dan bukan merupakan suatu langkah dari hasrat kekuasaan yang rakus (Libido Dominandi)," jelasnya.

Pada abad ke-14, Prancis mengalami masa sulit akibat Perang 100 Tahun melawan Inggris dan wabah pes Black Death. Sementara itu, Majapahit tampak dari kejauhan sebagai kerajaan rempah Timur yang makmur dan stabil. Majapahit dikenal sebagai negeri Gemah Ripah Loh Jinawi dengan armada maritim yang sangat kuat.

Kondisi Prancis yang menderita saat itu digambarkan para ilmuwan dunia sebagai "Gens calamitatibus oppressa" atau bangsa yang tertindas akibat bencana. Surya Majapahit, dalam imajinasi Eropa kontemporer, menyerupai cahaya peradaban manusia di ufuk Timur.

Kecemerlangan Majapahit bukan hanya karena sumber daya alam, tetapi juga hasil kepemimpinan ganda Maharaja Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada. Maharaja Hayam Wuruk berperan dalam aspek legitimasi kosmis dan harmoni, sementara Mahapatih Gajah Mada dalam organisasi politik dan ekonomi. Kombinasi keduanya menciptakan Majapahit sebagai negara bangsa yang cemerlang di Asia Tenggara selama 234 tahun.

Sebelum penemuan benua Amerika oleh Christopher Columbus, Majapahit telah berhasil membangun Asia Tenggara sebagai integritas mandala. Di sisi lain, Prancis secara geopolitik sibuk membela diri dari nafsu dominasi Inggris. Hendropriyono menyebut, jika Inggris menang, Prancis mungkin sudah lenyap sebagai suatu bangsa dalam sejarah dunia.

Prancis menderita parah saat Black Death melanda pada 1347-1352. Setengah (50%) dari populasinya lenyap, 60% kota hilang, desa kosong, dan ekonomi lumpuh total. Banyak kuburan massal ditemukan, dan wibawa gereja hancur lebur.

Rakyat yang tak tersembuhkan menyaksikan doa tidak menghentikan wabah, bahkan para imam pun meninggal. Tuhan kemudian terasa jauh bagi orang Prancis. Banyak kronikus mencatat bahwa "Laity (orang awam) berhenti berharap pada Klerus (Pemuka Agama)", memicu krisis religius yang menghancurkan wibawa agama.

Runtuhnya wibawa Gereja saat Black Death bukan awal langsung munculnya ateisme di Prancis. Namun, ini merupakan krisis kepercayaan religius institusional pertama yang fenomenal. Krisis tersebut merupakan awal dari proses panjang yang akhirnya melahirkan sekularisme dan ateisme modern di Prancis melalui Renaisans, Reformasi, dan Pencerahan.

Kota Kabupaten Nice berdekatan dengan Monaco, hanya berjarak 20 km ke arah timur. Monaco merupakan kerajaan kecil merdeka dan tempat berkumpulnya kaum jetset dunia. Monaco tidak pernah menyatakan "merdeka" seperti negara koloni lainnya.

Status Monaco terbentuk bertahap sejak 1297 saat Dinasti Grimaldi merebut benteng Monaco. Pada 1419, Monaco sah menjadi kepemilikan keluarga Grimaldi. Berdasarkan Perjanjian Péronne tahun 1641, Monaco lepas dari pengaruh Spanyol namun masuk sebagai protektorat Prancis.

Prancis mengakui kedaulatan Monaco pada 1861 dalam perjanjian Franco-Monégasque. Tanggal ini dianggap sebagai "kemerdekaan de facto" Monaco, dengan Prancis berfungsi melindungi Monaco di bidang militer dan diplomasi. Monaco dinilai tidak mungkin berdiri sendiri tanpa proteksi negara kuat karena ukurannya yang sangat kecil.

Bendera Kerajaan Monaco berwarna merah-putih, berasal dari warna keluarga Grimaldi abad pertengahan dan digunakan sejak 1881. Warna heraldik mereka adalah merah (gules) dan putih/perak (argent).

Dengan diakuinya Monaco secara hukum internasional pada 1861, penduduknya merasa merdeka. Prancis pun diuntungkan dalam aspek sosial-ekonomi, pajak, dan prestise. Menurut hukum internasional, kedaulatan suatu mikro-negara sah jika diakui dan keadaannya stabil.

Warna bendera Monaco yang persis sama dengan bendera Indonesia telah digunakan sebelum negara bangsa Indonesia lahir. Namun, secara historis, Majapahit di Indonesia telah lebih dahulu menggunakan warna merah-putih dalam sembilan garis horizontal. Bendera ini masih dipakai dalam panji-panji Kraton Majapahit Jakarta dan sebagai jack TNI AL Indonesia.

Makna merah-putih Majapahit dalam kosmologi Nusantara-Austronesia adalah merah melambangkan darah/keberanian/bumi/raga, dan putih melambangkan tulang/kesucian/langit/jiwa. Hal ini memiliki makna filosofis sebagai kesatuan raga-jiwa, keberanian yang suci, dan kehidupan manusia yang utuh.

Dalam filsafat Jawa kuno, merah melambangkan ibu (rahim) dan putih melambangkan ayah (benih). Ini menjadi simbol kelahiran dan kehidupan bangsa Indonesia dan Nusantara. Secara simbolik, putih adalah awal (asal roh) dan merah adalah akhir (kembali ke bumi), dengan panji Majapahit merah di awal dan merah di akhir.

Makna tersebut juga mencerminkan kekuasaan duniawi (cakravartin), kedaulatan di bumi Nusantara sebagai kerajaan maritim (darah-tanah), dan dominasi raga atas asketisme. Realitas budaya, ekonomi, dan keindahan arsitektur istana serta Kerajaan Majapahit pernah mengundang kekaguman seorang biarawan Fransiskan asal Italia, Odoric Pordenone (1286-1331).

Odoric Pordenone adalah penjelajah Eropa terkenal yang berawal ke Asia Timur dan Asia Tenggara pada awal abad ke-14, jauh sebelum era penjelajah kolonial Vasco da Gama. Dalam laporan perjalanannya (Itinerarium) di awal abad ke-14, ia menggambarkan Nusantara saat Majapahit berada di bawah Raja Jayanegara, raja kedua.

Odoric tiba di dunia yang ia anggap sebagai kerajaan "ajaib dan kaya raya", bahkan terasa lebih maju daripada Eropa. Ia menulis tentang tanah Majapahit yang sangat subur, buah-buahan melimpah, hasil bumi yang kaya, dan rakyatnya hidup sejahtera. Ia bahkan menggambarkan wilayah itu sebagai "sorga dunia".

Bagi bangsa Eropa abad ke-14 yang sering kelaparan, suasana tersebut sangat menakjubkan. Odoric juga terkesan pada perdagangan maritim Majapahit yang berjaringan luas, menyaksikan kapal-kapal besar datang dan pergi bertransaksi dengan pedagang India, Cina, Arab, dan bangsa Asia Tenggara. Ia menyadari kawasan ini adalah bagian dari sistem perdagangan besar, bukan pinggiran.

Odoric Pordenone mencatat bahwa Majapahit, seperti beberapa kerajaan Asia lain, memiliki Raja yang kuat, istana megah, tata kota yang baik, arsitektur memukau, dan kegiatan ritual istana yang berbeda dari Eropa. Ia terkesan bahwa masyarakat Majapahit ramah-tamah, sopan santun, disiplin, dan makmur tanpa aturan agama Kristen yang kaku.

Masyarakat Majapahit menganut agama Hindu dan Buddha yang hidup berdampingan penuh toleransi, sehingga memperkuat kohesi sosial. Tulisannya sangat penting karena mengguncang pandangan Eropa saat itu, bahwa hanya dunia agama Kristen yang dapat maju. Nada tulisannya bernuansa kagum, bukan merendahkan, yang merupakan khas misionaris Fransiskan yang observatif, bukan nada kolonial.

"Dalam imajinasi Eropa kemudian, bahwa Dunia Timur adalah dunia kemakmuran, sedangkan Eropa adalah dunia Barat yang serba kekurangan," ujar Hendropriyono. Kisah biarawan Odoric Pordenone ini menunjukkan fakta penting bahwa rakyat Majapahit lebih makmur daripada bangsa Eropa. Jaringan dagang global di belahan dunia Timur menunjukkan bahwa Nusantara bukan merupakan periferi, melainkan pusat keunggulan yang membalik narasi kolonial Barat.

(idn/idn)

Bagaimana perasaanmu membaca artikel ini?

Bagikan:
Artikel berhasil disimpan