Analis: ‘Polri u...

Analis: ‘Polri untuk Masyarakat’ Wajib Jadi Kompas, Bukan Sekadar Pemanis

Ukuran Teks:

Harian-Tinta.com, Jakarta – Analis intelijen Ngasiman Djoyonegoro berharap tema ‘Polri untuk Masyarakat’ menjadi kompas arah kebijakan Polri ke depan, bukan sekadar slogan pemanis. Simon, sapaan akrab Ngasiman, menilai konsistensi performa di lapangan akan otomatis menumbuhkan kepercayaan masyarakat. Hal ini disampaikannya dalam keterangan tertulis pada Rabu (1/7/2026).

Simon menegaskan, rakyat membutuhkan polisi yang mudah dihubungi, cepat merespons masalah, solutif, transparan, dan adil. Menurutnya, kepercayaan masyarakat akan tumbuh otomatis seiring konsistensi performa Polri. Ia mencontohkan sejumlah program yang mendekatkan pelayanan Polri kepada masyarakat.

Program-program tersebut meliputi Polri Presisi, tilang elektronik (ETLE), digitalisasi surat kendaraan, serta Polri RW dan Bhabinkamtibmas. Program ini memungkinkan polisi berinteraksi langsung dengan warga untuk menyelesaikan masalah kampung. Simon menilai Polri telah bergeser menjadi institusi yang humanis dan berorientasi pada pelayanan masyarakat.

Di usia ke-80, Polri terbukti menjadi bagian penting dari sejarah Indonesia. "Usia 80 tahun ini bukti sahih kalau Polri itu bagian dari DNA Republik ini," kata Simon. Ia menambahkan, Polri terus dipaksa beradaptasi dari zaman angkat senjata memperebutkan kemerdekaan, era reformasi, hingga perang siber yang serba cepat saat ini.

Sementara itu, Simon juga menyoroti hasil Survei Litbang Kompas yang dirilis akhir Juni 2026. Survei tersebut menunjukkan angka kepuasan masyarakat terhadap Polri mencapai 82,4 persen. Menurutnya, angka tersebut merupakan investasi sosial berharga bagi Polri, bukan sekadar prestasi. Simon mengingatkan bahwa kepercayaan publik dibangun dengan integritas bertahun-tahun dan bisa hancur dalam hitungan detik. Oleh karena itu, setiap personel Polri harus sadar bahwa mereka adalah representasi institusi di mata masyarakat.

Simon juga menyoroti fleksibilitas Polri dalam mendukung program pemerintah pusat. Keterlibatan Polri dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Ketahanan Pangan komoditas jagung menjadi buktinya. Simon menjelaskan, "Ketika polisi ikut turun ke ladang mendampingi petani dan mengamankan pasokan pangan, sebetulnya mereka lagi memperkuat sabuk pengaman nasional." Menurutnya, perut rakyat yang kenyang dan situasi sosial kondusif adalah modal dasar stabilitas ekonomi dan pembangunan.

Di sisi lain, tantangan Polri ke depan diprediksi Simon akan semakin kompleks. Kemajuan teknologi informasi, era kecerdasan buatan (AI), dan kejahatan hibrida yang tanpa batas wilayah menjadi perhatian. Simon mengungkapkan, "Di masa depan, penjahat tak perlu membobol pintu rumah, mereka pakai AI, siber, robotik, dan manipulasi data." Ia menegaskan, Polri masa depan wajib berbasis data dan analitik, namun faktor manusia tetap yang utama karena memiliki empati, hati nurani, dan kebijaksanaan.

Simon juga menekankan bahwa polisi tidak bisa bekerja sendirian di masa depan. Keamanan disebutnya sebagai urusan gotong royong. Polri harus merangkul berbagai pihak seperti pemerintah, kampus, pebisnis, komunitas, media, dan warga dalam kolaborasi multipihak. Kolaborasi ini dinamakan ‘Sabuk Kamtibmas’, yang menurut Simon akan menciptakan sistem imun keamanan adaptif. Simon diketahui sedang menyusun buku berjudul ‘Sabuk Kamtibmas’ sebagai kado hari jadi Polri.

Bagaimana perasaanmu membaca artikel ini?

Bagikan:
Artikel berhasil disimpan