UMKM Tercekik Harga Plastik Imbas Geopolitik, Ini Siasat Cerdas dan Ramah Lingkungan
TERAS BERITA
Harian-Tinta.com, Lonjakan harga plastik dalam sebulan terakhir akibat gangguan rantai pasok global dan imbas situasi di Timur Tengah, membuat pelaku UMKM menjerit. Kondisi ini mendorong pedagang mencari solusi alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada plastik sekali pakai, sekaligus meminimalkan sampah, seperti yang dilakukan oleh Alner dan Repair Project.
ISI BERITA
Memanasnya situasi di Timur Tengah beberapa bulan terakhir berdampak pada sektor ekonomi global. Rantai pasok komoditas terganggu, termasuk pasokan bahan baku plastik berbasis minyak bumi, yang menyebabkan harganya meroket di pasaran.
Kondisi ini membuat banyak pedagang plastik mengurangi volume pembelian. Distributor kerap memberikan daftar harga yang bisa berubah dalam hitungan jam, membuat pedagang kebingungan. Neneng (72), penjual plastik di Pasar Kosambi, Bandung, Jawa Barat, mengaku tidak menyangka bahwa kenaikan harga ini berkaitan dengan perang. "Aku pikir nggak nyambung gegara perang. Nggak nyambung, orang perang, kita yang terdampak, ternyata bahan bakunya," ujarnya seperti yang dilansir detikJabar, Sabtu (4/4/2026).

Senada, Zainuddin (47), penjual plastik di Pasar SBS, Bekasi, Jawa Barat, mengungkapkan kebingungannya. "Kita keder (bingung), tiap mau belanja dikasih price list baru. Malam nanya harga sekian, besok pagi sudah berubah lagi," katanya kepada detikcom, Jumat (27/3/2026).
Pedagang kaki lima dan UMKM juga merasakan dampak serupa, harus merogoh kocek lebih dalam untuk kantong kresek dan plastik. Mereka enggan menaikkan harga jual karena khawatir kehilangan pelanggan. Di tengah tekanan ini, sebagian pelaku usaha mulai mencari alternatif ramah lingkungan, seperti beralih ke kemasan daun pisang atau karton.
Cegah Plastik Sekali Pakai
Kenaikan harga plastik menjadi pengingat akan kondisi alam yang terusik, diperparah tingginya ketergantungan masyarakat pada kemasan plastik sekali pakai. Berbagai cara ditempuh untuk menjaga bumi dari ancaman sampah plastik.
Salah satunya adalah Alner, perusahaan asal Cilandak, Jakarta Selatan, yang dirintis sejak tahun 2020. Alner menerapkan konsep ekonomi sirkular berupa isi ulang dan pengembalian kemasan. Mereka menyediakan aneka kebutuhan cepat saji (FMCG) seperti sembako, perawatan tubuh, cairan pembersih, serta makanan dan minuman yang umumnya menggunakan kemasan plastik sekali pakai.

Menurut Founder & CEO Alner, Bintang Ekananda (32), perusahaannya ingin menyediakan solusi alternatif agar material kemasan produk tidak menjadi sampah. "Kami di Alner ingin menyediakan (solusi) alternatif bagaimana kita juga sebenarnya bisa mencegah sebuah material—dalam hal ini misalnya kemasan produk—agar tidak menjadi sampah," ungkap Bintang saat ditemui detikX, Selasa (28/4/2026).
Alner mengajak konsumen beralih ke kemasan guna ulang (reusable) dengan sistem insentif. Setiap kemasan kosong dari pembelian di gerai Alner yang dikembalikan memiliki nilai tukar (cashback) sebesar Rp500 hingga Rp10.000, yang dapat digunakan untuk transaksi berikutnya. "Kalau memang sistemnya mendukung untuk masyarakat kita tidak membuang sampah sembarangan atau (seperti) kami bisa mengembalikan kemasan dengan mudah dan ada insentifnya, menurut kami akan secara lebih mudah (untuk) membantu mereka mengubah kebiasaan," tambah Bintang.
Bekerja sama dengan Enviu Indonesia, startup studio yang fokus pada pencegahan polusi plastik, Alner telah menjaring 754 mitra di Jabodetabek sejak 2020. Produk yang dipasarkan bersumber dari produsen existing maupun lokal, menawarkan produk terjangkau dan ramah lingkungan.
Alner juga berekspansi dengan mendirikan gerai fisik. Pada Januari 2026, Alner meluncurkan Circular Stand di M Bloc Space, Jakarta, yang berfokus menjual makanan ringan, minuman, dan produk natural based. Sementara itu, gerai kedua Alner bernama Zero, yang beroperasi sejak 28 Februari 2026 di Fresh Market Bintaro, Kota Tangerang Selatan, menyediakan kebutuhan harian lebih variatif dan dilengkapi fasilitas mini-cafe. Zero diklaim sebagai pionir mini market pertama di Indonesia dengan sistem isi ulang tanpa kemasan plastik sekali pakai.
Gerai fisik Alner memiliki ciri khas. Untuk produk seperti cemilan, beras curah, atau cairan pembersih, konsumen wajib membawa kemasan sendiri untuk diisi ulang. Untuk produk lain, konsumen dapat membeli dan mengembalikan kemasan setelah habis digunakan. Konsumen juga bisa menukarkan kemasan plastik, kaca, atau aluminium dari luar Alner dengan poin Rp100 per item. "Itu nanti akan di-recycle atau didaur ulang oleh pihak ketiga, yakni Waste4Change," ujar Bintang.

Setelah empat bulan berekspansi ke gerai fisik, Bintang Ekananda mengaku banyak berdiskusi dengan berbagai pihak untuk mengembangkan bisnis Alner. Ia percaya inovasi Alner akan menguntungkan semua pihak dan menyelamatkan alam dari sampah plastik. "Dengan value proposition seperti itu, konsumen juga lebih tertarik untuk beli produk di Alner, (maka) bisnis kami jalan, dampak lingkungannya minim atau nol, produsen juga tetap bisa melakukan produksi dengan harga yang masuk akal," harapnya.
Menyulap Sampah Low-Value Jadi Barang Guna
Permasalahan plastik tidak hanya soal harga, tetapi juga nasib limbahnya. Hal ini mendorong lahirnya Repair Project, kolaborasi antara Waste4Change dan River Recycle, yang dibentuk sejak 2021. Proyek ini awalnya resah saat membersihkan bantaran Sungai Citarum, menemukan bahwa sebagian besar sampah yang terkumpul adalah jenis plastik bernilai rendah atau low-value plastic, seperti kemasan saset, bungkus makanan, dan kantong kresek.
Menurut Sales and Fundraising Lead Repair Project, Carissa Eukairin, plastik low-value sulit didaur ulang karena tidak ada nilai ekonomisnya. "Itulah sebabnya kayak secara daur ulang (sampah low-value plastic) juga susah. Jadi, masalahnya pengumpulan dan pengolahan karena nggak ada yang ngumpulin dan karena nggak ada yang (mau) daur ulang (sebab) nggak ada nilainya. Akhirnya, kalau nggak ada nilainya, orang (pasti akan) membuang sembarangan," kata Carissa kepada detikX, Kamis (30/4/2026).
Repair Project melibatkan masyarakat sekitar untuk mengumpulkan sampah low-value plastic dengan bayaran yang dianggap abnormal. Pada tahun 2024, mereka membangun pabrik di Desa Mekarjaya, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat, bekerja sama dengan Bening Saguling Foundation (BSF). Sebanyak 23 orang membersihkan, mencuci, memotong bahan baku, hingga mengempa sampah menjadi papan bernama River Recycle (RR) Board tanpa bahan campuran lain.

RR Board memiliki ukuran 1,2 x 2,4 meter dengan tiga jenis ketebalan (10 mm, 12 mm, 16 mm). Papan ini dapat diolah menjadi berbagai produk seperti meja, kursi, stool, phone holder, plakat, podium, dan cinderamata. Harga RR Board dibanderol mulai dari Rp405.500 per lembar, sedangkan produk olahannya mulai dari Rp50.000 per satuan.
Menariknya, RR Board telah lulus uji laboratorium Sucofindo dan aman untuk konstruksi bangunan. Papan ini terbukti tahan air dan rayap, serta mudah dimodifikasi. RR Board menjadi alternatif bahan daur ulang yang terjangkau dan estetik. "Ini tuh kalau orang sadar, dibanding kita nebang pohon (untuk) bikin triplek, kenapa nggak kita manfaatin (sampah plastik low-value) ini, gitu?" ungkap Carissa.
Repair Project telah berkolaborasi dengan sejumlah merek ternama dan berpartisipasi dalam kegiatan lingkungan. Namun, Carissa menekankan bahwa keberlangsungan ekonomi sirkular akan stagnan jika masyarakat belum sepenuhnya beralih ke produk daur ulang. Ia berharap kenaikan harga plastik menjadi momentum bagi masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan. "Menurut aku sih (kenaikan harga plastik) ini adalah momentum yang baik untuk keseluruhan lingkungan. Jadi, kita punya insentif tambahan bahwa memang sebaiknya tuh pilihan kita sehari-hari itu mengurangi kemasan plastik," pungkasnya.