Arab Saudi Pangkas Pro...

Arab Saudi Pangkas Produksi Minyak di Tengah Gangguan Selat Hormuz

Ukuran Teks:

TERAS BERITA
Harian-Tinta.com, Jakarta – Perusahaan minyak negara Arab Saudi, Saudi Aramco, mulai memangkas produksi dua ladang minyaknya. Langkah ini diambil di tengah gangguan jalur pelayaran energi kawasan Teluk, terutama Selat Hormuz, akibat konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran. Serangkaian serangan di wilayah tersebut menjadi pemicu utama.

ISI BERITA
Menurut dua sumber yang dikutip Reuters, pemangkasan produksi ini menyusul eskalasi konflik. Saudi Aramco menolak memberikan komentar terkait kebijakan tersebut. Belum diketahui secara pasti ladang minyak mana yang terdampak serta seberapa besar volume produksi yang dipangkas.

Langkah pengurangan produksi oleh eksportir minyak terbesar dunia ini mencerminkan semakin beratnya hambatan logistik di kawasan. Hambatan ini muncul sejak AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari. Teheran kemudian merespons dengan meluncurkan ratusan rudal dan drone, termasuk ke negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah fasilitas militer AS.

Gangguan serupa meluas ke negara-negara produsen minyak lain di kawasan. Kuwait Petroleum Corporation dilaporkan mengurangi produksi minyak dan menetapkan kondisi force majeure atau keadaan mendesak pada pengiriman. Sementara itu, Qatar menghentikan produksi gas alam cair (LNG) di fasilitas ekspor Ras Laffan setelah serangan drone dan turut menyatakan force majeure.

Produksi minyak dari ladang utama Irak di wilayah selatan disebut turun sekitar 70 persen karena keterbatasan kapasitas penyimpanan. Perusahaan minyak nasional Uni Emirat Arab, ADNOC, juga mengurangi produksi lepas pantai. Begitu pula dengan perusahaan energi Bahrain, Bapco Energies, yang turut menetapkan kondisi force majeure.

Gangguan yang belum pernah terjadi sebelumnya ini mengguncang pasar energi global. Harga minyak mentah Brent diketahui melonjak ke level tertinggi sejak pertengahan 2022, mendekati US$120 per barel.

Arab Saudi diketahui telah mempercepat pengiriman minyak melalui pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Pengiriman ini memanfaatkan pipa East-West sebagai jalur alternatif. Namun, para analis menilai volume pengalihan tersebut belum cukup untuk menggantikan jutaan barel minyak yang terhambat akibat penutupan jalur di kawasan Teluk.

Kondisi ini berpotensi membuat konsumen dan pelaku usaha di seluruh dunia menghadapi harga bahan bakar yang tinggi selama berbulan-bulan ke depan. Hal tersebut dapat terjadi bahkan jika konflik di kawasan segera mereda, karena kerusakan infrastruktur dan gangguan logistik masih memerlukan waktu untuk pulih.

Bagaimana perasaanmu membaca artikel ini?

Bagikan:
Artikel berhasil disimpan