Harian-Tinta.com, Microsoft resmi menawarkan program pensiun dini sukarela kepada ribuan karyawannya di Amerika Serikat (AS). Kebijakan ini merupakan upaya perusahaan memangkas struktur tenaga kerja sambil terus berinvestasi besar di sektor kecerdasan buatan (AI). Program yang pertama kali dilakukan Microsoft ini menyasar sekitar 7% dari total tenaga kerja mereka di AS.
Karyawan yang memenuhi syarat program pensiun dini ini harus memiliki total gabungan usia dan masa kerja minimal 70 tahun. Skema ini berlaku untuk pegawai level senior director ke bawah. Pemberitahuan resmi kepada mereka yang memenuhi syarat akan dijadwalkan pada 7 Mei mendatang.
CEO Microsoft Satya Nadella sebelumnya memberi sinyal transformasi besar perusahaan. Menurut Nadella, "Pergeseran platform ini membentuk ulang bukan hanya produk yang kami bangun dan model bisnis yang kami jalankan, tetapi juga bagaimana kami disusun dan bagaimana kami bekerja bersama setiap hari." Dia menambahkan, "Mungkin terasa berantakan pada beberapa waktu, tetapi transformasi memang selalu seperti itu," melansir CNN.
Langkah pensiun dini ini menandai babak baru efisiensi Microsoft. Sebelumnya, perusahaan telah melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 9.000 karyawan pada musim panas tahun lalu. PHK tersebut menjadi gelombang pemangkasan terbesar sejak 2023.
Keputusan efisiensi ini datang di tengah tren perusahaan teknologi global yang merapikan jumlah pekerja. Hal ini seiring perubahan besar industri akibat kecerdasan buatan (AI).

Dalam setahun terakhir, beberapa raksasa teknologi juga melakukan pemangkasan agresif. Meta diketahui memangkas 10% tenaga kerjanya atau sekitar 8.000 orang, sementara Amazon menghapus 30 ribu posisi dalam dua putaran PHK. Perusahaan fintech Block bahkan memangkas sekitar 40% stafnya, dengan alasan tim yang lebih kecil lebih efisien dengan bantuan AI.
Microsoft juga berada dalam arus yang sama dengan perusahaan teknologi lainnya. Perusahaan ini terus mengalihkan fokus pengeluaran untuk pembangunan infrastruktur AI, pusat data, dan pengembangan perangkat lunak berbasis kecerdasan buatan.
Pada kuartal yang berakhir Desember lalu, Microsoft tercatat menghabiskan US$37,5 miliar atau setara Rp646,46 triliun (asumsi kurs Rp17.238 per dolar AS). Dana tersebut dialokasikan untuk biaya pusat data dan infrastruktur pendukung.
Besarnya investasi AI ini memunculkan kebutuhan perusahaan untuk menata ulang struktur organisasi. Tujuannya agar pengeluaran operasional tidak membengkak terlalu jauh.
Menurut beberapa petinggi industri teknologi, AI memungkinkan pekerjaan dilakukan dengan tim yang lebih ramping. Teknologi ini mampu membantu penulisan kode, analisis data, hingga pekerjaan administratif. Microsoft sendiri agresif menawarkan coding agent atau agen AI untuk membantu kerja para pengembang perangkat lunak.