MRT Jakarta Ungkap Tan...

MRT Jakarta Ungkap Tantangan Berat Proyek Pedestrian Deck Dukuh Atas

Ukuran Teks:

Harian-Tinta.com, Jakarta – PT MRT Jakarta (Perseroda) menghadapi tantangan kompleks dalam pembangunan Pedestrian Deck Dukuh Atas. Proyek ini bertujuan mengintegrasikan enam moda transportasi di kawasan Transit Oriented Development (TOD) Dukuh Atas, namun harus melewati rintangan teknis dan administratif yang berat.

Pembangunan Pedestrian Deck Dukuh Atas oleh PT MRT Jakarta (Perseroda) dinilai jauh dari kata sederhana. Proyek ini menghadapi tantangan kompleks, mulai dari konstruksi di atas sungai hingga di sela terowongan MRT yang masih beroperasi. MRT Jakarta juga harus memastikan rumah pompa tetap berfungsi dan menyatukan banyak operator transportasi serta pemilik aset agar kawasan terintegrasi.

Pedestrian deck berbentuk melingkar ini merupakan bagian dari pengembangan Transit Oriented Development (TOD) Dukuh Atas. Infrastruktur ini ditargetkan menghubungkan enam moda transportasi, yaitu MRT Jakarta, KRL Commuter Line, LRT Jakarta, LRT Jabodebek, Kereta Bandara, dan TransJakarta. Tujuannya adalah menciptakan perpindahan antarmoda yang lebih mudah melalui jaringan pejalan kaki yang terhubung.

Bagi MRT Jakarta, pembangunan pedestrian deck ini lebih dari sekadar jembatan baru. Menurut TOD Planning Department Head MRT Jakarta, Sagita Devi, infrastruktur ini merupakan bagian dari mandat perusahaan mengembangkan kawasan berbasis transit di sekitar stasiun. Pengembangan kawasan berbasis transit, jelasnya, juga mendorong integrasi antarmoda, peningkatan konektivitas pejalan kaki, penataan ruang publik, hingga aktivitas ekonomi.

Sagita menambahkan, selama hampir tujuh tahun MRT beroperasi, fokus utama pengembangan TOD adalah meningkatkan konektivitas pejalan kaki. Ini dilakukan dengan menghubungkan stasiun, bangunan, dan ruang publik secara seamless (tanpa hambatan). Langkah tersebut diharapkan mendorong masyarakat beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum.

Pengembangan kawasan TOD ini, menurut Sagita, tidak dapat dilakukan MRT Jakarta sendirian. "Kalau misalnya dalam pengelolaan kawasan TOD ini kita memang enggak bisa bergerak sendiri dan kita butuh kolaborasi dari semua stakeholders dalam pengembangannya," kata Sagita dalam workshop MRT Jakarta Fellowship Program 2026, Kamis (30/7). Kolaborasi ini diperlukan agar pembangunan kawasan saling terhubung dan menciptakan manfaat yang lebih luas.

Sementara itu, Advisor Program Management Office Division MRT Jakarta, Agus Trihan, menyampaikan bahwa visi menghubungkan kawasan melalui jaringan pejalan kaki berhadapan dengan kondisi lapangan yang rumit. "PR-nya bikin proyek ini ada dua, teknis sama administratif," ujar Agus.

Dari sisi teknis, sebagian pondasi pedestrian deck harus dibangun di antara terowongan MRT yang masih beroperasi. Struktur bentangnya juga harus melintasi sungai dan Jalan Jenderal Sudirman sepanjang 66 meter. Pembangunan ini harus dilakukan tanpa mengganggu aktivitas di bawahnya.

Tantangan lainnya adalah keberadaan rumah pompa di sisi selatan kawasan. Fasilitas ini harus tetap beroperasi selama konstruksi untuk mengendalikan genangan di underpass Sudirman. "Itu ketika pembangunan kita harus maintain biar tetap beroperasional. Karena kita enggak bisa kalau dia mati, itu cepat naik air di underpass, lalu cepat banjir," jelas Agus.

Selain tantangan konstruksi, proyek ini juga menuntut koordinasi lintas instansi. Jalur pedestrian deck akan melintasi aset milik berbagai pihak, termasuk Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan, PT KAI, Railink, pemerintah pusat, hingga organisasi perangkat daerah (OPD) Pemprov DKI Jakarta. "Jadi memang cukup banyak ya, stakeholders-nya sangat banyak. Dan di area yang cukup padat dan sensitif. Jadi itu tantangan yang kita hadapi, selain teknis adalah banyaknya stakeholders yang harus di-manage," tutup Agus.

Bagaimana perasaanmu membaca artikel ini?

Bagikan:
Artikel berhasil disimpan