Mudik Lebaran 2026 Dip...

Mudik Lebaran 2026 Diprediksi Dorong Ekonomi Daerah dan Nasional

Ukuran Teks:

Harian-Tinta.com, Jakarta – Arus mudik Lebaran 2026 diproyeksikan menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal I/2026. Peningkatan mobilitas masyarakat selama periode ini diperkirakan memicu perputaran uang hingga Rp148 triliun dan mendorong konsumsi rumah tangga 10-15 persen, berpotensi mengerek pertumbuhan ekonomi 5,4-5,5 persen. Hal ini disampaikan Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto di Jakarta, Jumat (27/3).

Momentum mudik Lebaran 2026 diyakini sejumlah pelaku usaha dan asosiasi sebagai motor penting pertumbuhan ekonomi pada kuartal I/2026. Peningkatan mobilitas selama periode tersebut mendorong konsumsi rumah tangga dan perputaran uang di berbagai daerah, menciptakan dampak ekonomi yang lebih merata.

Perputaran uang selama arus mudik diperkirakan mencapai sekitar Rp148 triliun. Angka ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, sejalan dengan proyeksi pertumbuhan konsumsi masyarakat sebesar 10-15 persen.

Menurut Haryo Limanseto, momentum Ramadan dan Lebaran sangat signifikan menggerakkan konsumsi rumah tangga. Indeks Mandiri Spending Index weekly terbaru juga mengonfirmasi tren peningkatan konsumsi masyarakat, dengan angka terbaru di 123,5.

Pemerintah, berdasarkan Haryo, juga melihat peredaran uang yang meningkat selama arus mudik dan balik sebagai suntikan likuiditas langsung ke daerah. Ini diharapkan meningkatkan aktivitas ekonomi di sektor riil, termasuk penguatan produksi dan distribusi.

Mudik Lebaran 2026 Diyakini Dorong Ekonomi Daerah hingga Nasional

Kondisi konsumsi yang kuat ini diharapkan dapat mendorong peningkatan utilisasi kapasitas industri dan penyerapan tenaga kerja di berbagai sektor. "Kami optimistis dunia usaha akan mulai melakukan ekspansi," ujar Haryo.

Haryo menambahkan, "Harapannya banyak pelaku usaha yang mulai meningkatkan utilitas mesin dan tenaga kerja untuk mengisi kembali stok (restocking) produk yang terserap selama Ramadan dan Lebaran."

Sementara itu, pemerintah juga terus menajamkan anggaran dari sisi kebijakan. Hal ini dilakukan agar lebih efektif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi serta menjaga stabilitas di tengah dinamika global.

"Terkait efisiensi, kebijakan ini masih dalam tahap pembahasan intens," jelas Haryo. "Namun, target pemerintah bukan sekedar menghemat, tetapi menajamkan anggaran agar tersalurkan secara efektif. Pemerintah memastikan APBN akan tetap menjadi shock absorber di tengah ketidakpastian global."

Pemerintah optimistis bahwa momentum mudik Lebaran, didukung oleh konsumsi masyarakat yang kuat dan respons positif dunia usaha, akan dapat menjaga pertumbuhan ekonomi nasional agar berkelanjutan.

Bagaimana perasaanmu membaca artikel ini?

Bagikan:
Artikel berhasil disimpan