Harian-Tinta.com, Presiden Prabowo Subianto menyatakan sektor pertanian Indonesia di bawah Menteri Pertanian Amran Sulaiman berhasil mencapai swasembada pangan yang kokoh. Capaian ini membuat Indonesia kini mampu membantu negara lain dengan surplus produksi. Hal itu disampaikan saat menghadiri Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII di Gorontalo, Rabu (24/6).
Prabowo menegaskan, capaian sektor pertanian menunjukkan Indonesia berada di jalur tepat menuju swasembada pangan kokoh. Menurutnya, Indonesia kini kuat menjaga ketahanan pangan dan membantu kebutuhan pangan dunia di tengah ancaman krisis global.
Presiden Prabowo bahkan mengungkapkan Perdana Menteri Australia menghubunginya langsung. PM Australia, kata Prabowo, berterima kasih dan ingin membeli surplus pupuk Indonesia.
"Saya ditelepon Perdana Menteri Australia. Beliau berterima kasih karena Indonesia punya surplus pupuk dan bertanya apakah bisa membeli pupuk dari Indonesia. Saya bilang silakan, kirim ke mereka," kata Prabowo.
Persoalan pangan, lanjut Prabowo, merupakan isu mendasar bagi setiap negara. Berbagai lembaga internasional telah memperingatkan potensi peningkatan penduduk kelaparan akibat krisis global.
"Alhamdulillah sekarang kita sudah mulai ekspor, kita membantu negara-negara lain. Banyak negara meminta pupuk dari kita, meminta beras dari kita, meminta jagung dari kita," tambahnya.
Di hadapan lebih dari 100 ribu petani, nelayan, penyuluh, dan pelaku usaha pertanian di PENAS XVII, Prabowo menegaskan komitmen pemerintah. Ia akan menjaga dan memperkuat swasembada pangan nasional secara berkelanjutan.
Prabowo juga mengingatkan agar keberhasilan ini tidak membuat pemerintah lengah. Kebijakan pertanian harus tetap berorientasi pada kesejahteraan petani.
"Asal harganya benar. Petani jangan rugi," tegasnya.
Selain itu, Presiden menyinggung pengembangan hilirisasi kelapa sawit melalui program B50. Program ini akan diluncurkan pada Juli mendatang. Program tersebut diyakini akan memperkuat nilai tambah sektor pertanian, sekaligus mendukung kemandirian energi nasional.
Sementara itu, Menteri Pertanian Amran Sulaiman melaporkan capaian kebijakan di sektor pertanian selama pemerintahan Presiden Prabowo. Kesejahteraan petani Indonesia mencapai titik tertinggi dalam 34 tahun terakhir.
Berdasarkan data, Nilai Tukar Petani (NTP) mencapai 127. "Izin, Bapak Presiden, NTP atau Nilai Tukar Petani sebagai indikator kesejahteraan petani mencapai 127, tertinggi dalam 34 tahun terakhir," ujar Amran.

Pertumbuhan ekonomi sektor pertanian juga tercatat 5,74 persen. Angka ini merupakan yang tertinggi dalam 25 tahun terakhir.
Ekspor sektor pertanian diketahui meningkat hingga Rp166 triliun, sementara impor turun Rp41 triliun. Dengan capaian ini, total manfaat ekonomi yang dinikmati petani diperkirakan mencapai Rp200 triliun.
Mewakili petani Indonesia, Amran menyampaikan apresiasi atas kebijakan Presiden Prabowo. Salah satunya adalah penurunan harga pupuk sebesar 20 persen.
"Kami mengucapkan terima kasih mewakili petani Indonesia. Harga pupuk yang selama ini sejak Indonesia merdeka selalu naik, pada masa kepemimpinan Bapak Presiden justru turun 20 persen. Ini belum pernah terjadi sebelumnya," katanya.
Pemerintah juga melakukan deregulasi dan penyederhanaan distribusi pupuk. Hal ini membuat akses petani terhadap sarana produksi lebih mudah dan cepat.
Program hilirisasi komoditas strategis seperti kakao, mete, dan tebu seluas 870 ribu hektare juga digenjot. Program ini diproyeksikan menciptakan sedikitnya 3 juta lapangan kerja hingga tahun 2029.
"Bibit gratis, pengolahan lahan gratis, penanaman gratis. Ini merupakan arahan langsung dari Bapak Presiden untuk meningkatkan kesejahteraan petani," tambah Amran.
Di sektor perkebunan, Mentan Amran melaporkan harga tandan buah segar (TBS) sawit kembali normal. Harga ini bahkan berpotensi naik hingga 10 persen seiring peningkatan harga CPO dunia.
Untuk melindungi petani sawit, Kementerian Pertanian bersama Polri melakukan pengawasan. Sebanyak 274 perusahaan sawit yang tidak menyesuaikan harga TBS akan diperiksa.
"Kita harus menjaga kesejahteraan 15 juta petani sawit Indonesia. Karena itu, jika ada pihak yang tidak menaikkan harga TBS sesuai ketentuan, akan dilakukan pemeriksaan," jelas Amran.
Ketua KTNA Nasional, Mohammad Yadi Sofyan Noor, juga menyampaikan apresiasi atas keberpihakan Presiden. Ia menyebut perhatian, kepedulian, dukungan, dan keberpihakan Prabowo kepada petani dan nelayan Indonesia.
Sebagai bentuk penghargaan, KTNA menganugerahkan Lencana Emas Adibakti Tani Nelayan Maha Utama. Lencana ini diberikan kepada Presiden Prabowo Subianto atas kontribusi dan komitmennya memajukan sektor pertanian serta mendorong kesejahteraan petani dan nelayan.